Jumat, 27 April 2012

LAJU PENJALARAN API PADA BERBAGAI KEMIRINGAN


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kekhawatiran dunia terhadap pelestarian hutan tidak hanya terjadi akibat eksploitasi dan perambahan hutan, namun terutama akibat kebakaran hutan. Kerusakan hutan karena kebakaran di kawasan tropis bahkan tidak jarang dipakai sebagai legitimasi kerusakan hutan sebelumnya  terjadi oleh eksploitasi dan perambahan. Oleh karena itu, kebakaran hutan merupakan faktor pemacu (trigerring factor) utama kemunduran kuantitas dan kualitas hutan yang perlu diantisipasi dan dicegah sedini mungkin.
Salah satu faktor yang mempengaruhi laju penjalaran api pada kebakaran hutan adalah bentuk permukaan tanah sangat penting untuk mengontrol suatu kebakaran. Bukit dan lereng lebih sulit dibanding dengan lahan datar, semua mempengaruhi bagimana kebakaran terjadi dan bagaimana cara memadamkannya. Ada beberapa hal pengaruh kemiringan terhadap kebakaran. Pada lahan yang miring nyala api akan mendekati bahan bakar yang ada di atasnya  dan akan bergerak lebih cepat dibanding lahan yang datar. Tanaman akan menjadi panas sebelum api menyentuhnya, dan akan lebih mudah untuk  terbakar. Pada kelerengan yang terjal akan lebih cepat api menyebar dan akan lebih sulit untuk dikontrol. Dalm membuat sekat bakar untuk di atas lereng harus lebih lebar dibanding jika membuat di bawah lereng. Lahan miring yang langsung menghadap matahari, akan lebih cepat terjadi  panas  dan mengalami proses pengeringan bahan bakar, sebaliknya pada bagian lain bahan bakar relatif lebih dingin, sehingga apabila terjadi kebakaran pada  lereng yang menghadap matahari atau sebalah timur akan lebih cepat jika kebakaran terjadi pada lereng bagian barat.

1.2 Tujuan
          Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui laju penjalaran pada tingakat kemiringan yang berbeda-beda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Kebakaran dalam hutan dapat terjadi bila sedikitnya tersedia tiga komponen yaitu bahan bakar, oksigen atau udara, dan penyalaan api. Seluruh komponen ersebut sebagi bahan bakar, baik sendiri maupun secara komulaif, ditentukan oleh jumlah, kondisi terutama kadar airnya dan penyebaran dalam hutan (Intsia, 2009).
Kebakaran terjadi apabila ada setidaknya tiga faktor penentu, yaitu bahan yang dapat terbakar (materials), sumber api (ignition), dan zat asam (oksigen) yang bertemu atau berinteraksi dalam proses pembakaran. Bagaimanapun keringnya kayu dan bahan organis lainnya bila tidak ada sumber api, tentunya kebakaran hutan masih dapat dihindari (Ahmad, 2008).
Bahan Bakar (Pohon, rumput, dan semak dll) dapat terbakar bila tersedia udara dan panas yang cukup. Tiga unsur tersebut biasa disebut “segitiga api”. Bila tiga unsur segi tiga api tersebut tidak tersedia secara lengkap, api tidak dapat membakar. Harus ada panas yang cukup untuk menyulut bahan bakar misalnya: panas dari korek api, batubara, api bekas memasak, dari kendaraan,dari chainsaw, dari puntung rokok dll. Dan harus ada udara (oksigen) untuk dapat terbakar, tanpa ada udara sedikitpun api tidak akan hidup (Young and Giese,1991).
Pohan (1984) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa semakin curam lereng tidaklah menunjukkan semakin cepat api menjalar, akan tetapi pada kondisi kemiringan yang sedang (25%) api menjalar paling cepat. Untuk kemiringan 0% dan 15 % masih terlalu sedikit angin yang mempengaruhi kebakaran atau hanya bagian bawah angin saja yang berpengaruh permukaan kebakaran dan untuk kemiringan yang terlalu curam (45%) permukaan lereng dapat menghambat angin. Oleh karena itu, pada kemiringa 25% merupakan kondisi yang baik bagi angina untuk memindahkan panas dan mensuplai oksigen.
Factor – factor topografi yang penting meliputi: aspek, elevasi, daerah curam, tebing dan jeram. Kelerengan mempengaruhi penjalaran api, sifat – sifat dari nyala api dan perilaku api lainnya. Dalam hal ini kelerengan berpengaruh terhadap sudut nyala api (Weise and Biging 1996)
Hasil penelitian Weise and Biging (1996) menunjukkan rata – rata sudut nyala api berkisar antara -39,5° untuk kelerengan 30% kea rah bawah hingga 13,5° untuk kelerengan 30% kea rah bawah tanpa adanya pengaruh angin
BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal   : -
Waktu                         : 14.00 – 17.00 WIB
Tempat            : Laboratorium Kebakaran Hutan, Fakultas Kehutanan IPB

3.2 Alat dan bahan
       Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1.    Lidi
2.    Penggaris
3.    Korek api
4.    Alat pengukur waktu
5.    Penyangga berupa kincir

3.3  Cara Kerja
C ara kerja pada praktikum kali ini yaitu :
1.      Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan.
2.      Mengukur panjang lidi awal.
3.      Mengatur posisi bahan bakar ( lidi ) di penyangga pada berbagai kemiringan. Posisi kemiringannya yaitu pada 0º, 45º, 90º, 135º, dan 180º.
4.      Menyulut lidi dengan korek apai dan mencatat waktu penjalaran api hingga apinya padam.
5.      Mengukur kembali panjang lidi setelah proses pembakaran atau penjalaran api.
6.      Mengulangi langkah yang sama pada setiap posisi kemiringan hingga tiga kali pengulangan.
7.      Mencatat hasil praktikum pada tabel yang telah ada.

BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1 Hasil pengamatan laju penjalaran pada posisi bahan bakar yang berbeda
Waktu Penjalaran (detik)
Panjang Lidi yang Terbakar (cm)
Laju penjala-ran (cm/s)
Ulangan ke-1
Ulangan ke-2
Ulangan ke-3
Rata-rata
Ulangan ke-1
Ulangan ke-2
Ulangan ke-3
Rata-rata
0º
4.2
3.4
5.5
4.37
0.5
0.4
0.3
0.4
0.09
45º
6.4
7.3
5.2
6.3
0.7
0.8
0.4
0.63
0.1
90º
7.3
6.9
8.4
7.53
1.6
0.3
1.2
1.03
0.137
135º
41.7
65
35.5
47.4
6
7.8
6
6.6
0.139
180º
25.6
24.6
34.5
28.23
10.8
10.9
10.9
10.88
0.385S

Grafik 1




4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengujian tentang pengaruh posisi bahan bakar terhadap laju penjalaran api. Lidi diletakkan di atas penyangga dengan posisi kemiringan berbeda-beda mulai dari 0 derajat hingga 180 derajat. Setiap posisi kemiringan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali dan dihitung rata-rata panjang lidi yang terbakar dan lama penyalaan. Laju penjalaran diperoleh dari hasil bagi rata-rata panjang lidi yang terbakar dengan rata-rata lama penyalaan.
Pada posisi 0 derajat, rata-rata panjang lidi yang terbakar adalah 0,4 cm dengan lama penyalaan 4.37 detik, sehingga laju penjalarannya 0,09 cm/s. Pada posisi ini laju penjalarannya yang paling rendah. Bahan bakar dengan posisi 45 derajat, rata-rata terbakar sepanjang 0,63 cm dengan lama penyalaan 6,3 detik dan laju penjalarannya 0.10 cm/s. Pada posisi 90 derajat, rata-rata panjang lidi yang terbakar adalah 1,03 cm selama 7,53 detik sehingga laju penjalarannya 0,137 cm/s. Di posisi 135 derajat, terbakar 6,6 cm lidi selama 47,4 detik dan laju penjalarannya adalah 0,139 cm/s. Yang terakhir adalah pada posisi 180 derajat. Pada kemiringan ini semua batang lidi terbakar habis (rata-rata panjang lidi 10,88), dengan lama penyalaan 28,23 detik. 
Berdasarkan percobaan kimia, api mempunyai tingkat kepanasan tertinggi pada daerah bagian tengah api (daerah api reduksi bagian atas) dan mempunyai tingkat kepanasan minimum pada bagian pangkal api (daerah api reduksi bagian bawah).
Dilihat dari grafik, semakin besar kemiringan (api berada dibawah bahan bakar) semakin cepat juga laju penjalaran api terhadap bahan bakar tersebut. Bahan bakar yang diletakkan pada posisi 180 derajat ini memiliki laju penjalaran paling tinggi yaitu 0,385 cm/s. Hal ini disebabkan oleh posisi nyala api yang selalu mengarah ke atas, pembakaran terjadi hampir pada seluruh daerah api dan membakar bahan bakar yang berada tepat di atasnya. Faktor angin juga ikut berpengaruh dimana pada posisi inilah api mendapatkan suplai oksigen yang cukup.
Pada posisi 0 derajat, laju penjalarannya paling rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penyulutan api sudah dihentikan oleh praktikan sebelum api stabil, pembakaran hanya terjadi pada bagian pangkal api (daerah api reduksi bagian bawah/minimum), serta angin yang kurang mendukung sehingga mengakibatkan pemadaman.
Oleh sebab itu, secara keseluruhan laju penjalaran api sangat dipengaruhi oleh posisi bahan bakar. Api yang terletak di bawah bahan bakar akan lebih mudah menjalar ke atas dan menghabiskan bahan bakar tersebut.

BAB V
KESIMPULAN
         
          Berdasarkan praktikum mengenai laju penjalaran pada posisi bahan bakar yang berbeda dapat disimpulkan bahwa posisi bahan bakar ini ternyata sangat berpengaruh pada besarnya laju penjalaran. Semakin besar posisi (sudut kemiringan) suatu bahan bakar, maka laju penjalarannya akan semakin besar. Dalam hal ini pada posisi 180º (posisi bahan bakar tegak) laju penjalarannya paling tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Bijuga, Intsia. 2009. Pengaruh Gesekan Kayu/ Bambu Terhadap Kebakaran Hutan.http://pengaruh%20geseskan%20kayubambu%20terhadap%20kebakaran%20hutan.mht. [9 April 2009].
Pohan ZR. 1984. Pengaruh Berbagai Kecepatan Angin dan Kemiringan Lereng Terhadap Kecepatan Menjalarnya Api [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Sanusi, Ahmad. 2008. Oksigen dan Nyala Api. http://oksigen%20dan%20Nyala%20api%20«%20Ahmad%20Sanusi%20Nasution%20Blog.mht.  [9 april 2009].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar